Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari praktik perundungan terus digalakkan seiring meningkatnya perhatian publik terhadap kasus bullying di dunia pendidikan. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui kegiatan kampanye anti perundungan bertajuk “Membangun Lingkungan Aman Tanpa Perundungan” yang dilaksanakan di SMA Negeri 10 Gowa, Selasa (20/1/2026).
Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Megarezky Makassar sebagai luaran dari mata kuliah Belajar Motorik. Kampanye tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya perlindungan psikologis dan sosial peserta didik di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini turut didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, Wahyu Munandar, S.Or., M.Or., yang memberikan pendampingan akademik sekaligus penguatan nilai-nilai edukatif kepada mahasiswa dan para siswa. Kehadiran civitas akademika Universitas Megarezky mencerminkan peran aktif perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nyata yang dihadapi dunia pendidikan.
Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kampanye ini. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 10 Gowa, Dra. Hj. Hasniah, M.M., menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa Universitas Megarezky yang dinilai sejalan dengan visi sekolah dalam membangun iklim belajar yang aman, nyaman, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik. Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif yang berkesinambungan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi kepada para siswa mengenai pengertian perundungan, jenis-jenis perundungan, serta dampaknya terhadap kesehatan mental, perkembangan sosial, dan prestasi belajar. Para siswa diajak memahami bahwa perundungan, baik secara verbal, fisik, maupun sosial, dapat menimbulkan trauma jangka panjang. Selain itu, kampanye ini juga menanamkan nilai empati, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk melaporkan setiap bentuk perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini dinilai relevan dengan kondisi pendidikan di Indonesia, di mana praktik perundungan masih kerap ditemukan di berbagai satuan pendidikan. Perundungan tidak hanya mengancam rasa aman siswa, tetapi juga berpotensi menghambat terciptanya proses pembelajaran yang sehat dan inklusif. Oleh karena itu, kampanye anti perundungan dipandang sebagai langkah strategis dalam memutus mata rantai kekerasan di sekolah sejak dini.
Dosen pendamping, Wahyu Munandar, menegaskan bahwa melalui kampanye “Membangun Lingkungan Aman Tanpa Perundungan” diharapkan tumbuh kesadaran dan komitmen bersama di kalangan siswa SMA Negeri 10 Gowa untuk menciptakan sekolah yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang yang aman, ramah, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Menutup rangkaian kegiatan, mahasiswa memberikan rewards kepada siswa yang aktif dan kritis selama sesi diskusi berlangsung. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa juga memberikan motivasi kepada para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, sekaligus memperkenalkan Universitas Megarezky Makassar sebagai salah satu pilihan dalam melanjutkan studi.




